Bukan ke MBG! ke Sini Larinya Uang Efisiensi APBN

Danantara, apakah itu?

Saat orang-orang masih membakar puing-puing kemarahan akibat efisiensi anggaran, dan sambat tentang iring-iringan mobil pejabat di jalan raya yang terasa semakin banyak.

Tanpa pemanasan, rakyat disontakan dengan isu akan diluncurkannya Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), yang direncanakan pada 24 Februari 2025.

Tapi, Bagi Prabowo Subianto Danantara merupakan proyek historis, ayahnya Sumitro Djojohadikusumo, punya ide membangun sebuah lembaga pengelola 1-5 persen laba Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada akhir 1980-an.

Apa itu Danantara ?

Danantara adalah sebuah badan pengelola investasi. Dulu, BUMN, jikalau mendapat dividen (surplus/keuntungan) sebagian akan disalurkan ke APBN dan uang tersebut dipergunakan untuk “belanja” APBN. Kemudian uang tersebut “habis begitu saja” tanpa kita dapat mengukur efeknya untuk pembangunan.

Tapi dengan Danantara jad berbeda. Misalnya, dari surplus BUMN sebesar Rp. 100 Triliun pada tahun 2024, nah Rp. 70 Triliun-nya  disalurkan ke Danantara.

Oleh Danantara ini uangnya “diputar” (bukan untuk slot lho ya!), uang ini dikelola untuk diinvestasikan ke berbagai instrumen investasi agar dalam kurun waktu tertentu dapat menghasilkan keuntungan berkali-kali lipat.

Instrumen investasinya bisa bermacam-macam, bisa saham, obligasi, properti, infrastruktur, atau bisnis strategis lainnya tidak terikat oleh bentuk apapun di dalam atau di luar negeri.

Jika kamu mungkin pernah membaca soal badan pengelolaan investasi “Temasek” milik Singapura, nah mirip seperti itu, tapi ada perbedaan mendasar antara Danantara dan Temasek yang membuat keduanya tidak bisa disamakan.

Perbedaannya adalah soal dana yang dikelola oleh keduanya. Temasek dalam menghimpun dana yang akan dikelolanya, tidak mengambil dari BUMN, apalagi efisiensi APBN, ibaratnya, uangnya lebih “dingin”-lah.

Aset yang sudah dikelola dari awal oleh Kementrian Keuangan negara mereka, hingga investasi yang dari awal dimiliki negara mereka di luar negeri, beserta keuntungannya. Jadi singkatnya dana awal Temasek adalah murni independen, tidak ada pejabat dalam struktur pemerintahan yang mengotak-atik, sehingga bergerak lebih “steril”.

Jadi, memang berfokus pada ROI (Return on Investment) atau rasio keuntungan dan kerugian suatu investasi dengan jumlah uang yang diinvestasikan.

Nah, dengan perbedaan mendasar antara Temasek dan Danantara tadi, akan menjadi krusial untuk melihat “anagata-nya”, anagata diambil dari bahasa sansekerta yang artinya masa depan.

Seperti yang telah kita ketahui, Danantara ini sumbernya bukan hanya dividen yang dimiliki BUMN, ada juga hasil efisiensi APBN, yang mana bisa menjadi pisau bermata dua, jika tidak dikelola dengan profesional.

Jika Danantara ini berhasil, hasilnya bakal menjadi motor penggerak perekonomian makro Indonesia, makin menarik untuk investor mancanegara agar bisa terlibat, dan akan mengurangi ketergantungan APBN Indonesia dengan pajak.

Nah, Bagaimana jika gagal?

Konsekuensinya sangat membagongkan, bisa-bisa berakibat menjadi bencana ekonomi.

Defisit APBN makin besar, loss atau berkurangnya nilai investasi yang tadi kita sebutkan, menjadi beban APBN baru untuk menyuntik modal kembali, dan investorpun bakal lari menjauh dari Indonesia.

Jadi bagaimana agar berhasil ?

Independensi adalah kuncinya, harus memiliki prinsip ROI (Return on Investment), jadikan badan tersebut independen, sehingga terlepas dari segala agenda politik komprador oportunis pragmatis yang bisa menyelinap kapan saja.

Begitu juga orang-orang yang akan mengisi posisi di Danantara haruslah orang-orang yang berkompetensi, profesional, dan juga independen.

ini akan menjaga performa dan menjaga sentimen publik serta calon investor.

Jika dari awal orang-orang yang menggerakan tidak dipandang cakap dalam mengelola badan ini, selanjutnya akan jadi susah.

Penutup

jadi di situasi ini, tentu kita berharap project  terobosan ini akan berjalan sesuai rencana dan dapat dinikmati oleh Indonesia di masa yang akan datang.

Tapi, saya yakin, akan ada keragu-raguan di hati kebanyakan orang dengan Danantara ini, yang tentu karena berkaca dengan proyek strategis sebelumnya oleh pemerintah.

Jadi harapannya saat Danantara berjalan, harus transparan. Kita harus tahu uangnya “diputar” kemana (Jangan-jangan buat slot woy!!), tujuannya ke arah mana, dan perjalanannya sudah sampai mana.

mari kita nyebat sambil ngopi sembari melihat perjalanan Danantara. 

 

Oleh:

Andika Pranomo

Anggota GmnI Inhil